Selasa, 01 Januari 2013
satu hari, Plato bertanya pada gurunya
Satu hari, Plato bertanya pada gurunya,
“Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana.
Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali,
kemudian ambillah satu saja ranting.
Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap
paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik).
Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.
Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting – ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi,
jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya
“Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”
—
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,
“Apa itu perkawinan?
Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana.
Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh)
dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja.
Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang
paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”
Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.
Jadi di kesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini.
Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya“
Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”
–
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan.
Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat
dimundurkan kembali.
Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.
Terimalah cinta apa adanya.
—
Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta.
Adalah proses mendapatkan kesempatan,
ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya,
Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan
perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.
Cinta
Cinta
Sebuah emosi dari kasih
sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi, cinta merupakan sifat
baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi
atau kegiatan
aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri,
empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan,
mengikuti, patuh dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
PENTINGNYA KOMUNIKASI DALAM
HUBUNGAN CINTA
paper

Disusun Oleh :
Mar’atul Hanifah
(
14030111130040 )
PROGRAM STUDI S-I ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
(FISIP)
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG 2011
Pentingnya
Komunikasi dalam Hubungan Cinta
A.
Pengertian Komunikasi, Hubungan dan Cinta
1. Komunikasi
Suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan)
dari satu pihak kepada pihak lain, dilakukan secara lisan
atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa
verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan
dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya
tersenyum, menggelengkan kepala dan mengangkat bahu, yang
cara tersebut biasa disebut komunikasi nonverbal.
2. Hubungan / relationship
Interaksi antara dua orang atau lebih yang
memudahkan proses pengenalan satu sama lain. Hubungan terjadi dalam
setiap proses kehidupan manusia,
dapat
dibedakan menjadi hubungan dengan teman sebaya,
orangtua, keluarga dan lingkungan sosial. Secara garis besar,
hubungan terbagi menjadi hubungan positif dan negatif. Hubungan positif
terjadi apabila kedua pihak yang berinteraksi merasa saling diuntungkan satu sama lain dan
ditandai dengan adanya timbal balik yang serasi. Sedangkan, hubungan
yang negatif terjadi apabila suatu pihak merasa sangat diuntungkan dan pihak
yang lain merasa dirugikan. Dalam hal ini, tidak
ada keselarasan timbal balik antara pihak yang
berinteraksi. Lebih lanjut, hubungan dapat menentukan tingkat kedekatan dan kenyamanan antara
pihak yang berinteraksi. Semakin dekat pihak-pihak tersebut, hubungan tersebut akan
dibawa kepada tingkatan yang lebih tinggi.
3. Cinta
Sebuah emosi dari kasih
sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi, cinta merupakan sifat
baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi
atau kegiatan
aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri,
empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan,
mengikuti, patuh dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
B. Arti Penting Komunikasi dalam Sebuah Hubungan
Kita bukanlah makhluk yang bisa
membaca pikiran orang lain, jadi segala sesuatunya perlu dibicarakan, baik itu hal yang baik
maupun buruk. Terlalu banyak merahasiakan sesuatu atau malah menyembunyikan
kesalahan sama saja seperti menanam bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Tanda yang cukup jelas jika hubungan
sudah akan berakhir adalah apabila
pasanganmu sudah mulai jarang berbicara denganmu.
C. Komunikasi dengan Pasangan
Persatuan dua insan dalam suatu
wadah yang disebut keluarga
diibaratkan
sebagai sebuah perahu layar di tengah lautan. Ombak dan badai atau konflik
akibat faktor
internal maupun eksternal adalah hal biasa. Agar tidak terombang-ambing tak
menentu dan akhirnya karam karena
badai tersebut, perahu layar harus mempunyai arah
yang jelas.
Karena itu dibutuhkan komunikasi
kedua belah pihak untuk berusaha dan bekerja sama menentukan arah agar sampai
di pelabuhan tujuan, yakni keluarga yang harmonis. Kemampuan berkomunikasi
secara efektif adalah suatu keterampilan, bukan bawaan sejak lahir. Jadi, bisa diasah melalui praktek
langsung dengan pasangan.
D. Tips Berkomunikasi dengan Pasangan
Apapun hubungannya, komunikasi
memegang peranan penting bagi kelanggengan hubungan tersebut. Entah berada
dalam ikatan kencan baru, tunangan ataukah menikah selama bertahun-tahun, salah
satu elemen dasar yang membuat kekokohan hubungan adalah komunikasi. Berikut ini adalah beberapa tips dalam berkomunikasi
dengan pasangan :
1.
Tidak
mengkritik satu sama lain
Pasangan yang mengkritik, melecehkan dan mempermalukan satu
sama lain dapat mengikis kelangsungan hubungan yang mereka bina. Kritik akan merusak
pondasi hubungan yang telah dibina dengan baik. Jika salah
satu merasa sakit hati, maka kebencian pun tak terhindarkan. Ini adalah
pertanda buruk bagi masa depan hubungan.
2.
Tidak
bersikap defensif satu sama lain
Sikap membela diri akan memperburuk
kondisi hubungan. Lebih banyak mendengar justru dapat dengan aktif mengurangi
gangguan tersebut.
3.
Jika
memiliki salah paham cobalah untuk mencari jalan tengahnya
Ketika masalah melanda jangan
membenamkan masalah tersebut atau bahkan lari darinya. Cara seperti ini hanya
akan membuat hubungan memburuk karena lawan bicara merasa ditinggalkan. Jadi
ketimbang lari dari masalah, lebih baik duduk berdua dengan tenang dan mencari
jalan tengah dari permasalahan tersebut yang terbaik untuk berdua.
4.
Pahami
emosional satu sama lain
Kemarahan kerap mendatangkan rasa sakit
dan kekecewaan. Hal ini mungkin terlihat sepele di dengar. Meski demikian, seseorang tak boleh mengacuhkan
hal tersebut. Menjaga perasaan masing-masing ketika beradu pendapat sangat
penting karena di sinilah pasangan merasa dihargai. Untuk mengatasinya, ambil
nafas dalam-dalam untuk menurunkan serangan stres dan amarah. Setelah itu, tanyakan
satu sama lain secara perlahan tentang masalah yang menyebabkan silang pendapat.
Jika aman untuk dilakukan,
dapat dengan memeluk pasangan selama 20 detik penuh
agar produksi oksitosin terjaga pasokannya. Dengan demikian, amarah pun dapat
diredam.
5.
Menyelesaikan perselisihan secara baik-baik
Setiap orang
sering berpikir bahwa kita memiliki jalan terbaik untuk menyelesaikan suatu
masalah, tapi itu hanyalah persepsi
kita sendiri. Jika selalu menganggap cara
yang telah digunakan adalah yang paling benar, maka hal ini akan
sering membuat suatu pasangan
berada dalam konflik. Dengarkan pendapat orang lain dan selesaikan secara
baik-baik.
6.
Hormati diri sendiri dan pasangan
Manusia
tidak bisa mencintai orang
lain tanpa menghormatinya.
Pertama yang harus dihargai
adalah diri sendiri, baru kemudian pasangan.
7.
Berkomitmen dengan hubungan
Komitmen adalah ujian sesungguhnya
dari sebuah hubungan. Jika menginginkan hubungan yang baik, quitting will never
be your option.
8.
Percaya terhadap pasangan
Kepercayaan adalah hal yang penting
dalam sebuah hubungan. Tanpa itu, orang akan sering merasa curiga, gelisah dan
takut terhadap hubungan dan pasangannya. Tapi pastikan juga pasangannya dapat menjaga
kepercayaan dengan baik. Kalau ia mengkhianati, maka ia tidak pantas mendapatkan
cinta.
9.
Berikan ruang untuk pasangan
Berikan kesempatan bagi dia untuk
bertumbuh, melakukan hobinya dan bergaul dengan teman-temannya. Jangan bersikap
posesif dengan menginginkan dirinya selalu terus bersamamu. Memiliki cintanya tidak sama dengan memiliki
dirinya.
Daftar Pustaka
Kenali “Bahasa Cinta” Pasanganmu untuk Hindari Putus Cint
Kenali “Bahasa Cinta” Pasanganmu untuk Hindari Putus Cinta
13 September 2012
1,374 views
No Comment
Oleh: Ramadion S.PsiDalam hubungan cinta, ada sebuah masa yang secara tak resmi disebut sebagai “masa bulan madu”, yaitu masa di mana pasangan terlihat sangat sempurna dan kita merasa sangat bahagia hanya dengan keberadaannya di samping kita. Tapi, berdasarkan penelitian Dr. Dorothy Tennov, “masa bulan madu” ini hanya berlangsung paling lama dua tahun saja. Setelah itu, perasaan cinta yang menggebu-gebu tadi mulai mengalami penurunan. Kita mulai melihat kekurangan di diri pasangan, misalnya jerawat di wajahnya yang dulu tidak kita gubris. Atau, perilaku pasangan yang tadinya biasa saja mulai terasa mengganggu. Contohnya, gaya cuek yang dulu terlihat cool mulai terasa sebagai bentuk ketidakpedulian, hobi ber-olahraga pasangan yang tadinya merupakan aspek positifnya mulai dipersepsi sebagai upaya melarikan diri dari diri kita, dan lain-lain.
Beberapa dari kita pun mencoba mengejar kembali perasaan cinta yang dulu dengan melakukan hal yang menurut kita akan menyenangkan pasangan, seperti, membelikan hadiah, memasakkan makanan yang enak atau memberikan pelukan dan sentuhan fisik lainnya. Tapi ternyata itikad baik kita tersebut tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan. Beberapa pasangan pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Konsultan yang mempelajari hubungan cinta, Gary Chapman (1996), melihat bahwa kesalahan terletak pada definisi pasangan tentang cinta dan komunikasi cinta yang dilakukan pasangan. Chapman (1996) mengatakan bahwa apa yang kita rasakan pada “masa bulan madu” harusnya tidak dianggap sebagai cinta. Perasaan yang membuncah tersebut sebenarnya hanyalah reaksi fisik kita saja terhadap pasangan. Ini adalah perasaan saat tubuh kita menemukan tubuh lain yang cocok untuk membuat keturunan. Menurut Chapman, cinta justru adalah perasaan yang berhasil kita tumbuhkan pada masa setelah “masa bulan madu”. Yaitu pada masa kita sudah bisa menerima kekurangan dari pasangan dan berkomunikasi dengan baik dengan pasangan.
Berdasarkan pengalaman Chapman selama 20 tahun, komunikasi antar pasangan dapat dilakukan dalam 5 cara. Chapman menyebutnya sebagai “Lima Bahasa Cinta”, dan manusia yang merasa komunikasinya dengan pasangan belum baik artinya dia belum menemukan “bahasa” cinta yang digunakan oleh pasangan.
“Bahasa” cinta ini didapatkan oleh tiap manusia seperti ia mendapatkan bahasa yang ia gunakan sehari-hari. Manusia mempelajari “bahasa cinta”-nya dari melihat kondisi di sekitar dan dari mengikuti dorongan yang ia dapatkan dari dalam. Seseorang yang melihat ayahnya sering memberikan hadiah kepada ibunya akan menggunakan cara yang sama untuk mencoba menyenangkan pasangannya (padahal mungkin pasangannya tidak mementingkan hadiah fisik). Orang yang senang dipeluk akan memeluk pasangannya untuk mencoba membahagiakannya (padahal mungkin pasangannya membutuhkan sebuah diskusi untuk menyelesaikan masalahnya). Cara terbaik agar kita mendapatkan timbal-balik yang baik dari komunikasi kita dengan pasangan adalah dengan mencari tahu “bahasa cinta” pasangan dan memberitahu pasangan tentang “bahasa cinta” kita sendiri.
Berikut adalah lima “bahasa cinta” yang ditemukan oleh Chapman:
1. Kata-kata pendukung dan pujian: ada beberapa orang yang mengharapkan pujian dari orang yang mereka cintai. Ia senang jika usahanya mendapatkan feedback positif dari keluarga dan pasangannya. Ia tumbuh di lingkungan yang memberi pengakuan dari tiap prestasinya, dan orang-orang ini akan mengharapkan pasangannya untuk memberikan hal yang sama untuk dirinya. Untuk orang-orang yang memiliki “bahasa” ini, pujian atas rambut yang baru dipotong akan lebih berharga daripada hadiah seperti coklat dan perhiasan.
Orang yang memiliki “bahasa” ini juga biasanya lebih sensitif dengan penggunaan nada bicara. Ia akan lebih merasa sedih jika pasangan menggunakan nada bicara yang keras. Mereka juga akan lebih bersedia untuk bekerja sama (misalnya, untuk mencuci baju atau pekerjaan rumah tangga lainnya) jika kita memintanya dalam bentuk bahwa kita membutuhkan kemampuannya. Daripada mengatakan, “betulkan kamar mandi sebelum rumah ini banjir”, lebih baik kita mengatakan, “menurutmu apakah kamu sempat membenarkannya hari sabtu ini?”
2. Quality time: kita sudah sering mendengar cerita mengenai orang-orang yang merasa tidak bahagia, padahal pasangannya sukses dalam karirnya dan ia memiliki semua fasilitas yang dibutuhkan. Hal ini terjadi karena orang tersebut lebih mengharapkan untuk bisa menghabiskan waktu yang berkesan dengan pasangannya daripada semua fasilitas yang dimiliki. Orang-orang dengan “bahasa” ini akan sangat senang jika dapat bepergian bersama dengan pasangannya atau hanya tinggal saja di rumah untuk mengobrol dengan pasangannya.
Jika berbicara dengan orang-orang dengan “bahasa” ini, ia akan sangat menghargai jika kita menjaga eye-contact, tidak menyela pembicaraan mereka dan tidak melakukan hal lain seperti mengecek handphone kita. Mereka juga akan senang jika kita mencoba ikut menyukai hobi yang mereka miliki dan melakukannya bersama.
3. Hadiah: Orang yang memiliki “bahasa” ini akan merasa susah jika ia berpasangan dengan pasangan yang terlalu hitung-hitungan. Jika kamu memiliki pasangan yang memiliki “bahasa” ini, Gary Chapman tidak menyuruhmu untuk berubah menjadi orang yang boros. Tapi, ada baiknya agar kamu secara khusus membuat anggaran khusus untuk membelikannya hadiah.
4. Pelayanan: Walau bukan berarti harus dilayani terus menerus, ada orang yang merasa senang jika pasangannya melakukan hal spesial untuk dirinya. Jika kamu memiliki pasangan yang senang jika mendapatkan perlakuan khusus darimu, mungkin adalah ide baik untuk sesekali membuatkannya sarapan khusus. Untuk mereka yang sudah menikah, kamu bisa sesekali membereskan rumah sebelum pasangan pulang. Bukan kondisi rumahnya yang diinginkan pasangan, tapi bentuk usahamu untuk menyenangkannya yang ia cari.
5. Sentuhan fisik: Kulit kita dipenuhi dengan reseptor syaraf, dan beberapa orang sangat senang jika pasangannya menyentuh kulit mereka dengan perasaan sayang. Karena itu, banyak orang yang senang dipeluk dan dibelai. Seperti orang dengan “bahasa” lainnya, dia akan lebih senang untuk duduk berdua saja sambil bersentuhan fisik daripada jika kamu repot-repot membuat makanan yang memerlukan waktu masak yang lama.
Bagaimanakah cara untuk mengetahui “bahasa cinta” yang dimiliki pasangan? Menurut Chapman, ada dua cara. Pertama, adalah dengan menanyakan pada pasangan, “apa saja hal yang aku lakukan yang membuat kamu sangat senang?” Kamu juga bisa bertanya, “saat kita bertengkar, apa yang aku lakukan yang membuat kamu sangat terluka?” Jika jawabannya adalah kata-kata yang kasar, maka mungkin bahasa cinta pasanganmu adalah Kata-kata Pendukung. Jika jawabannya adalah kamu yang mendiamkan dirinya, mungkin bahasa cinta pasanganmu adalah Quality Time.
Cara kedua adalah memperhatikan hal yang paling sering diminta oleh pasangan. Jika ia sering meminta dibelikan sesuatu, maka mungkin bahasa cintanya adalah Hadiah. Jika ia sering memintamu membereskan baju yang kamu taruh sembarangan, mungkin bahasa cintanya adalah Pelayanan. Oh ya, ada kemungkinan satu orang memiliki lebih dari satu bahasa cinta yang dominan. Setelah mengetahui bahasa cinta pasanganmu (dan mengajak pasangan mengetahui bahasa cintamu), mulailah saling memberikan apa yang dibutuhkan pasanganmu.
Bagaimana menurutmu? Apakah bahasa cintamu dan pasangan? Apakah kamu memiliki bahasa cinta yang lain? Share jawabanmu di bagian comment, ya. Selamat berkomunikasi dengan pasangan!
Sumber:
Chapman, Gary. (1997). Lima Bahasa Kasih. Jakarta: Professional Books.
Kekuatan Cinta Membangun Komunikasi
''Kekuatan Cinta Membangun Komunikasi
dalam Keceriaan dan Sikap Optimistik''
Kidung Agung 2:8-13
dalam Keceriaan dan Sikap Optimistik''
Kidung Agung 2:8-13
Perikop yang kita baca malam ini mengungkapkan kekuatan cinta yang tidak hanya berhenti pada relasi suami-isteri dalam relasi seksualitas saja. Namun juga sekaligus membangun komunikasi yang terjalin dalam keceriaan dan dalam sikap optimistik dalam menghadapi kehidupan. Hal tersebut digambarkan melalui ungkapan “serupa kijang yang melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit” dan ajakan untuk mengisi hari-hari kebahagiaan sebagai suami-isteri dengan ungkapan “Bangunlah manisku, jelitaku, marilah!” dalam musim semi dan panen, setelah melewati musim dingin dan hujan yang sudah berlalu. Pohon ara yang berbuah dan
sumber gambar : iusedtohevehair.com pohon anggur yang berbunga menggambarkan kesejahteraan hidup mereka sebagai suatu keluarga.
Sebagai keluarga-keluarga Gereja Kristen Pasundan, kita semua dipanggil untuk melanjutkan kehidupan keluarga yang penuh dengan keceriaan dan sikap optimistik dalam menyambut berkat-berkat Tuhan.
Kekuatan cinta kasih Tuhan Yesus kepada kita hendaknya mendorong kita untuk mengembangkan relasi dan komunikasi antara anggota keluarga secara baik, menyegarkan dan ceria. Bagi keluarga yang telah menjalani bertahun-tahun kehidupan pernikahannya, secara khusus diingatkan untuk mengembangkan bentuk komunikasi cinta kasih yang kreatif seperti pada masa pernikahan di tahun pertama, bahkan lebih dari itu. Di tengah banyaknya tawaran dari luar yang dapat membuat komunikasi antara anggota keluarga, marilah kita membuat “pohon-pohon di kebun kita sendiri” menjadi “pohon-pohon” yang menarik, karena berbuah manis dan “wanginya” bunga yang menarik keluarga kita untuk merasa betah di rumah kita, dan menikmati kebersamaan indahnya cinta di tengah keluarga.
Komunikasi antara Tuhan dan jemaat-Nya dalam kasih Tuhan Yesus Kristus juga merupakan komunikasi yang membangun keceriaan dan sikap optimistik jemaat dalam pengharapan. Pengharapan seringkali dihubungkan dengan penderitaan dan kesusahan, padahal pengharapan justru membangun kehidupan jemaat menjadi ceria dan bersikap optimistic. (EG)
Pertanyaan:
- Masalah keluarga apakah yang dapat mengganggu keceriaan dan sikap optimistik suami-isteri, orangtua – anak dalam membangun komunikasi di tengah keluarga? Apa yang harus kita lakukan agar kita terhindar dari masalah itu? Dan jika kita saat ini sedang mengalaminya?
- “Pohon, bunga dan buah yang manis dan menarik” apakah menurut saudara-saudara, yang perlu dibangun dalam kehidupan jemaat saudara sekarang ini, sehingga membangun komunikasi ceria dan optimistik dalam jemaat?
I Need You
“Waiting” Means “I Need You”
Ibrani 11:1-3; Roma 8:24-25
Ibrani 11:1-3; Roma 8:24-25
Meskipun hidup manusia adalah rentetan penantian, siapa sih yang suka menanti? Tidak ada seorangpun yang mau menanti. Menanti
Menati atau menunggu berarti kita butuh. Kalau kita tidak butuh, mana mungkin kita mau menunggu? Jadi, ini perenungan yang sangat indah. Menunggu adalah pengalaman yang indah. Ibaratnya, sepasang kekasih yang saling menunggu. Tiap waktu adalah pengalaman yang sangat ecxiting dan pengalaman yang penuh pengharapan. Ketika kita mengatakan “aku butuh kamu” maka ini juga berarti “aku menanti kamu”. Artinya dasar iman Kristen berasal dari dua kombinasi kalimat tersebut. Karena menanti memang adalah nama lain dari iman. Dengan demikian, ketika kita beriman, kita menyadari bahwa kita sedang menantikan Tuhan.
Firman Tuhan saat ini menjelaskan bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). Untuk segala sesuatu yang tidak kita lihat, kitapun diminta menunggu agar Tuhan sendiri yang membuktikan kelak agar semuanya dapat terlihat. Kata harap di sana juga berarti menanti atau menunggu. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun (Rm 8:24-25). Karena kita memang berharap untuk apa yang tidak kita lihat, sehingga kita menantikannya dengan tekun. Sebab kalau kita sudah melihat sesuatu, itu bukan lagi pengharapan – seperti kata Rasul Paulus. Semakin kuatlah keyakinan kita bahwa beriman itu sama dengan menunggu atau menanti.
Jadi, jangan pernah menjadikan setiap peristiwa yang berada dalam rentang waktu hidup kita sebagai sebuah peristiwa terakhir, perhentian, atau selesai. Hari akan berganti hari, tahun pun akan berganti tahun. Jadi tidak ada waktu yang selesai dan berhenti.
Mari kita menyadari bahwa setiap waktu kita adalah saat dimana kita terus menanti-nantikan tuntunan tangan kasih Tuhan. Kita menyadari bahwa setiap waktu, kita senantiasa membutuhkan Tuhan. Karena itu mengaku menjadi orang beriman tidak akan pernah selesai, berakhir, atau berhenti.
Mari kita semua terus memupuk dan menumbuhkan iman dengan setia sampai pada akhir waktu di dunia ini. Karena memang, iman tidak pernah amin (selesai). Manusia hidup bersama dengan waktu untuk memberi kesempatan kepada kita merespon panggilan Tuhan di sepanjang waktu hidup kita.
Tuhan menolong dan memberkati kita menyongsong tahun baru, tahun 2013. Amin. (LBLD)
Langganan:
Postingan (Atom)